28 Sep 2019

Catatan Harian Kristen: Pertemanan Rekan Kerja Saya Terjalin Seperti ini


Kesaksian Kristen | Catatan Harian Kristen: Pertemanan Rekan Kerja Saya Terjalin Seperti ini


Oleh Saudari Ye Qing, Tiongkok

Senin, 3 September 2018, Langit cerah

Sampai hari ini, aku sudah bekerja di salon kecantikan selama sebulan. Saat pertama kali aku mulai bekerja, atasanku memerintahkan seorang gadis bernama Xiao Jie untuk menunjukkan tata cara pekerjaan kepadaku. Kepribadiannya sangat ceria dan dia akan menceritakan semuanya kepadaku, baik itu hal-hal yang terjadi di rumah maupun masalah yang ditemuinya di tempat kerja, dan kami dengan cepat mengenal satu sama lain. Dengan bantuan Xiao Jie, dan melalui belajar dan berlatih keras serta mempelajari kekuatan rekan-rekanku, keterampilanku meningkat dengan cepat, dan banyak pelanggan mulai meminta jasaku secara pribadi. Untuk mengungkapkan terima kasihku kepada Xiao Jie, aku membeli beberapa produk tata rias dan pakaian hanya untuknya. Kami lama-kelamaan menjadi semakin akrab, kami saling mengungkapkan isi hati setiap kali mendapat masalah, dan kami telah menjadi teman yang bisa mengatakan apa pun kepada satu sama lain. Aku senang sekali bisa mendapat teman sebaik itu.

Rabu, 3 Oktober 2018, Mendung

Sekarang aku sudah bekerja di salon kecantikan selama dua bulan. Oleh karena keterampilanku meningkat setiap saat, semakin banyak pelanggan yang meminta jasaku, dan aku sering mempromosikan produk-produk toko kami kepada para pelanggan dan memperkenalkan mereka pada skema keanggotaan kami. Toko membayar stafnya berdasarkan seberapa banyak pekerjaan yang dilakukan, sehingga semakin banyak pelanggan yang aku layani, semakin banyak komisi yang aku dapatkan. Aku sangat senang.
Namun, selama beberapa hari terakhir, hubunganku dengan Xiao Jie tidak sedekat dahulu. Kadang-kadang, ketika ada seorang pelanggan datang untuk potong rambut, aku berinisiatif dan menyapanya, tetapi setiap kali aku pergi mengambilkan air minum untuk pelanggan, Xiao Jie mencuri pelanggan tersebut, dan ketika aku kembali, dia hanya mengatakan bahwa pelanggan itu meminta jasanya secara pribadi. Ketika dia pertama kali mulai melakukan hal ini, aku tidak terlalu memikirkannya, berpikir bahwa dia telah membantuku sebelumnya dan kami sudah seperti kakak beradik, dan tidak perlu bertengkar karena hal-hal seperti itu. Selain itu, aku seorang Kristen, dan jika aku mulai bertengkar dengan seseorang demi mendapatkan sedikit keuntungan, itu akan sangat bertentangan dengan kehendak Tuhan. Namun, karena hal ini telah terjadi, hubungan kami telah mengalami perubahan secara samar. Meskipun tampak dari luar, kami tetap mengobrol dan tertawa bersama, hati kami menjadi terasing, dan pertemanan kami mengalami krisis ….

Kamis, 25 Oktober 2018, Hujan gerimis

Aku sangat marah dengan apa yang terjadi hari ini! Ketika aku mulai bekerja pagi ini, Xiao Jie mencuri seorang pelanggan tepat di depan mataku, dan aku merasa sangat tidak nyaman. Aku berpikir dalam hati: “Kita bekerja di bawah satu atap. Dengan begitu terang-terangan mencuri pelangganku, bukankah ini justru intimidasi terang-terangan? Kesabaranku ada batasnya, dan sepertinya aku harus memberimu peringatan.” Tepat ketika aku bertanya-tanya bagaimana cara berbicara dengan Xiao Jie tentang hal ini, seorang pelanggan lama yang pernah aku layani sebelumnya datang ke toko. Aku tersenyum dan menyapanya, lalu bergegas menuangkan teh untuknya. Yang mengejutkanku, Xiao Jie sekali lagi mencuri pelangganku, dan ketika aku kembali membawa teh, aku melihatnya di sana sedang mengobrol dengan pelangganku. Meskipun sangat kesal dengan hal ini, aku tidak bisa mengatakan apa-apa di depan pelanggan, jadi aku hanya memberikan teh kepada pelanggan, dan berjalan dengan cemberut dari ruangan. Aku merasa sangat sedih sepanjang hari dan berupaya keras sampai tiba waktunya toko tutup, saat itulah aku bergegas pulang begitu saja.
Hujan turun rintik-rintik dari langit, dan saat berjalan sendirian pulang ke rumah, aku merasa sangat kesal. Semakin aku memikirkan apa yang terjadi hari ini, semakin aku tidak senang bersama Xiao Jie, dan aku berpikir: “Engkau sangat tidak sopan! Mencuri pelanggan dariku setiap hari itu satu persoalan, tetapi hari ini engkau bahkan telah mencuri salah satu pelanggan lamaku. Bukankah ini intimidasi terang-terangan dan merampas mata pencaharianku? Jika aku terus membiarkan perilakumu ini, aku khawatir akan kehilangan pekerjaanku. Tidak, aku harus berbicara denganmu besok, dan jika kita tidak bisa menyelesaikannya, kita akan biarkan atasan kita yang menengahi.”

Jumat, 26 Oktober 2018, Hujan deras

Tepat ketika kami membuka pintu toko pagi ini, pelanggan lamaku yang telah dicuri Xiao Jie dariku beberapa hari yang lalu datang lagi. Dia segera mencariku dan memintaku untuk melayaninya. Dia juga mengatakan kepadaku bahwa, ketika Xiao Jie melayaninya beberapa hari yang lalu, dia menungguku untuk mengambilkan air minum untuk pelanggan itu dan kemudian Xiao Jie memberi tahu pelanggan itu bahwa aku tidak begitu pandai memotong rambut dan bahwa pelanggan itu dapat mengganti pegawai lain jika dia mau. Xiao Jie juga mengatakan kepada pelanggan itu bahwa aku adalah muridnya, dan dia meminta pelanggan itu untuk datang mencarinya lain waktu saat datang lagi. Mendengar hal ini, aku marah besar, dan aku sangat jengkel kepada Xiao Jie: “Mencuri pelangganku itu satu persoalan, tetapi engkau juga diam-diam mencelaku di depan mereka. Ini benar-benar bodoh dan engkau sudah kelewatan sekarang! Engkau orang yang tidak jujur!”
Setelah berpamitan kepada pelangganku, aku tidak bisa menahan kemarahanku lagi, dan aku menghampiri Xiao Jie dan berkata dengan suara keras: “Engkau telah melayani pelangganku, tetapi mengapa engkau harus memberi tahu mereka bahwa aku tidak pandai dalam pekerjaanku? Apakah engkau berusaha menghancurkan mata pencaharianku? Bagaimana engkau mengharapkan aku untuk terus bekerja seperti ini?” Xiao Jie tahu dirinya salah dan, tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia turun ke bawah. Setelah itu, aku melihat dia langsung menemui atasan, menggerakkan tangannya sambil berbicara. Tepat sebelum kami akan selesai bekerja hari itu, rekan-rekan lain mengatakan kepadaku bahwa Xiao Jie telah memberi tahu atasan tentang semua kesalahanku, dan aku langsung merasakan amukan amarah: “Engkaulah yang melakukan kesalahan, tetapi bukan hanya engkau tidak mengakui bahwa engkau salah, tetapi engkau juga menceritakan kepada atasan tentang aku. Mengapa engkau melakukan ini? Ini tidak masuk akal!” Semakin aku memikirkannya, semakin aku marah. Aku tadinya berpikir telah menemukan seorang teman yang bisa penuh pertimbangan dan menyayangi aku sebagaimana aku menyayangi mereka. Aku tidak pernah mengira dia menjadi sangat mengabaikan pertemanan kami. Aku memutuskan bahwa aku harus membicarakannya besok dan mencoba menyingkirkan semua kebencian ini. Namun kemudian aku memikirkan bagaimana kami bekerja di bawah atap yang sama setiap hari dan saling bertemu sepanjang waktu. Jika aku memutuskan pertemanan kami secara terbuka, tidak satu pun dari kami yang bisa bekerja di sana, tetapi jika aku tidak mengatakan apa-apa, aku hanya akan merasa sangat diperlakukan secara tidak adil. Dalam kesedihan, aku berdoa dalam hati kepada Tuhan: “Ya Tuhan! Aku merasa sangat sedih dan benar-benar tidak bisa menghadapi Xiao Jie lagi. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Semoga Engkau membimbingku dan menuntunku melalui kesulitan ini …”

Sabtu, 27 Oktober 2018, Langit cerah

Ketika menghadiri sebuah kebaktian gereja hari ini, aku membuka hatiku dan memberi tahu saudara-saudariku tentang apa yang telah terjadi antara aku dan Xiao Jie. Salah seorang saudari membacakan dua bagian dari firman Tuhan kepadaku, dan dia kemudian dengan sabar memberikan persekutuan untuk menyelesaikan masalahku. Tuhan berfirman, “Terlahir di tanah yang kotor seperti itu, manusia telah dirusak teramat parah oleh masyarakat, dia telah dipengaruhi oleh etik feodal, dan dia telah diajar di ‘institusi pendidikan tinggi’. Pemikiran terbelakang, moralitas rusak, pandangan licik terhadap kehidupan, filsafat menjijikkan, eksistensi yang sungguh tidak berharga, dan gaya hidup serta adat-istiadat bejat—semua ini telah teramat parah memasuki hati manusia, dan sangat menggerogoti dan menyerang hati nuraninya. Akibatnya, manusia semakin menjauh dari Tuhan, dan semakin menentang-Nya. Watak manusia menjadi lebih jahat hari demi hari” . “Dasar manusia kejam! Persekongkolan dan intrik, saling rampas dan saling rebut, persaingan demi ketenaran dan kekayaan, bantai-membantai—kapankah semuanya ini akan berakhir? … Berapa banyak orang yang tidak bertindak demi kepentingan diri mereka sendiri? Berapa banyakkah yang tidak menindas atau mengucilkan sesamanya untuk melindungi kedudukan mereka sendiri?”.
Saudari itu kemudian memberikan persekutuan, dengan mengatakan, “Firman Tuhan menyingkap akar penyebab dan kebenaran tentang kerusakan kita oleh Iblis. Sebelum dirusak oleh Iblis, kita memiliki hati nurani dan akal yang seharusnya dimiliki oleh kemanusiaan yang biasa; kita adalah penyayang, toleran, dan memaafkan orang lain, dan kita bisa bergaul dengan orang lain secara damai. Namun, setelah kita dirusak oleh Iblis, kita memiliki sifat iblis dalam diri kita yang egois, tercela, dan didorong oleh keuntungan. Selama beberapa ribu tahun, Iblis tidak pernah berhenti menggunakan pendapat orang-orang terkenal dan hebat serta penularan dan pengaruh masyarakat yang terus-menerus mengindoktrinasi kita dengan semboyan kehidupan iblis seperti “Tiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan yang ketinggalan akan dimangsa”, “Manusia akan melakukan apa pun untuk menjadi kaya”, “Bertempur untuk setiap jengkal tanah dan rampas sekecil apa pun bagian yang bisa Engkau dapatkan”, dan “Kita tidak akan menyerang kecuali jika diserang; jika kita diserang, kita pasti akan menyerang balik”. Ketika kita dipengaruhi dan diracuni oleh racun dan semboyan ini, kita menjadi semakin egois dan tercela, semakin didorong oleh keuntungan, kita mengutamakan keuntungan, apa pun yang kita lakukan, dan jika tidak ada keuntungan yang didapatkan, kita tidak perlu repot-repot melakukan apa pun. Untuk memuaskan kepentingan pribadi kita, beginilah cara kita bersikap terhadap teman dekat dan bahkan kepada anggota keluarga kita. Kita bersikap baik satu sama lain jika ada sesuatu di dalamnya untuk kita, jika tidak, kita menghindari dan berpisah satu sama lain. Jika ada yang melanggar kepentingan kita, kita mulai bertengkar dan membuat keributan, begitu rupa sehingga kita berselisih dengan teman-teman kita dan menggunakan segala cara yang kita miliki untuk melawan, menyerang, dan membalas mereka. Maka tidak ada lagi perhatian atau kepedulian di antara orang-orang, dan kekerabatan serta pertemanan pada masa lalu berubah menjadi kebencian. Untuk mendapatkan keuntungan, kita kehilangan nurani dan akal kita, kemanusiaan dan moralitas kita, dan kita kehilangan keserupaan manusia. Bukankah begitu?” Aku mengangguk setuju.
Dia melanjutkan: “Kita semua telah dirusak oleh Iblis dan kita semua hidup dengan semboyan hidup Iblis. Semua orang berjuang demi kepentingan mereka sendiri; hanya perilaku mereka yang berbeda-beda. Xiao Jie telah secara terang-terangan mencuri pelangganmu demi keuntungan; engkau telah membenci Xiao Jie karena keuntunganmu berkurang banyak dan, untuk mengembalikan keuntunganmu yang hilang, engkau ingin bertengkar dan berdebat dengannya, sampai-sampaiengkau bahkan ingin menyerangnya karena murka. Sebenarnya, tidak peduli bagaimana kita bersikap atau mengungkapkan diri kita sendiri, kita semua hidup dengan watak rusak iblis dalam diri kita, dan kita semua berselisih satu sama lain demi keuntungan; engkau bersaing denganku, aku bersaing denganmu, kita berdua dikendalikan dan ditipu oleh Iblis, dan pada akhirnya kita berdua hidup dalam kepedihan yang tidak bisa kita hindari. Namun, untungnya, kita telah datang ke hadapan Tuhan, dan dari firman Tuhan, kita dapat melihat dengan jelas kebenaran tentang kerusakan Iblis terhadap manusia dan cara-cara yang digunakannya. Kita juga dapat melihat watak kita sendiri yang egois, tercela, didorong oleh keuntungan, dan jika kita melakukan firman Tuhan, takut akan Tuhan, dan menghindari kejahatan, meninggalkan watak rusak kita sendiri, dan menghidupi kemanusiaan yang biasa dengan mengandalkan firman Tuhan, kita tidak akan dirusak lagi oleh Iblis.”
Setelah mendengarkan firman Tuhan dan persekutuan dari saudari itu, tiba-tiba aku melihat terang itu. Ternyata aku dan Xiao Jie telah mengembangkan prasangka terhadap satu sama lain dan mulai mengabaikan satu sama lain demi memperebutkan pelanggan, dan itu semua disebabkan oleh sifat kami yang egois, serakah, didorong oleh keuntungan, dan karena kami hidup dengan semboyan hidup Iblis. Aku berpikir tentang betapa benarnya semua ini dan bahwa, ketika aku pertama kali mulai bekerja di salon kecantikan, aku sering membutuhkan Xiao Jie untuk membantuku karena aku tidak terlalu terampil. Pada saat itu, tidak ada konflik kepentingan di antara kami, dan kami bergaul dengan cukup baik. Namun, ketika aku menjadi lebih terampil, aku menerima lebih banyak pelanggan daripada Xiao Jie, dan dia menjadi iri dan cemburu, dia mulai menjauh dariku dan telah mencuri para pelangganku tanpa menghiraukan pertemanan kami. Aku juga tidak mau merelakannya, karena keuntunganku mulai berkurang, dan sampai-sampai aku menuntut agar dia mengakui apa yang telah dilakukannya di depan semua orang dan telah menyudutkannya. Xiao Jie telah mencuri para pelangganku karena dia tidak percaya pada Tuhan dan tidak memahami kebenaran, dan karena dia hidup dengan wataknya yang rusak. Aku, di sisi lain, sebagai seorang Kristen, tidak mencari kehendak Tuhan saat menghadapi masalah ini, tetapi sebaliknya cepat marah dan bertengkar dengan Xiao Jie, baik secara terbuka maupun dalam pikiranku demi kepentingan pribadiku sendiri. Bagaimana mungkin seorang Kristen seperti itu? Aku kemudian melihat betapa rusaknya diriku oleh Iblis, dan betapa dalamnya sifat iblisku yang egois, tercela, dan didorong oleh keuntungan. Jika bukan karena Tuhan membedah watak iblis dalam diriku hari ini melalui persekutuan saudari itu, aku tidak tahu apa lagi tindakanku sebagai akibat dari sifat iblis dalam diriku. Syukur atas bimbingan Tuhan! Aku benar-benar mendapatkan banyak hal dari kebaktian hari ini; aku menjadi tahu akar penyebab mengapa rekan kerja tidak bisa rukun, dan aku menemukan jalan untuk menyelesaikan masalah ini. Sekarang aku membuat resolusi kepada Tuhan: aku tidak akan lagi hidup dengan sifat iblis dalam diriku yang egois dan tercela, tetapi sebaliknya akan belajar bagaimana melepaskan kepentinganku sendiri dan memuliakan Tuhan dengan tindakan nyata.

Jumat, 16 November 2018, Langit cerah

Aku berangkat kerja lebih awal hari ini dan, setelah selesai bersih-bersih, aku melihat bahwa Xiao Jie sudah tiba. Aku sengaja menyapanya, dan dia berhenti sejenak, lalu segera tersenyum dan balas menyapa. Aku merasa sangat senang. Beberapa saat kemudian, seorang pelanggan datang ke toko dan aku baru saja akan berdiri dan menyambutnya ketika, tanpa diduga, Xiao Jie melompat mendahuluiku dan mencuri pelanggan tersebut. Menyaksikan hal ini terjadi, kehangatan pertemanan di hatiku langsung padam oleh seember air dingin. Aku merasa seperti seekor binatang yang terjebak dalam perangkap—aku merasa sangat berang, marah, benci, dan bingung; aku tidak tahu bagaimana rasanya. Aku benar-benar menyesal telah begitu lambat dan membiarkan Xiao Jie mengalahkanku, dan aku merasa menyesal karena telah repot-repot menyapanya pagi ini …. Saat itulah, firman Tuhan muncul dalam benakku: “Kemanusiaan yang normal mencakup aspek-aspek ini: wawasan, perasaan, kesadaran, dan karakter. Jika engkau bisa mencapai keadaan normal dalam setiap aspek ini, kemanusiaanmu sesuai standar. Engkau harus punya keserupaan dengan seorang manusia normal dan bertindak seperti seorang yang percaya kepada Tuhan. Engkau tidak harus mencapai hal-hal besar atau berdiplomasi. Engkau hanya harus menjadi manusia normal, dengan perasaan seorang yang normal, mampu melihat inti hal-hal, dan setidaknya terlihat seperti seorang manusia normal. Itu sudah cukup.”
Firman Tuhan menenangkan hatiku yang gelisah. Tuhan menuntut kita agar hidup dalam kemanusiaan yang biasa dan menjadi manusia yang memiliki akal, hati nurani, dan integritas, karena hanya dengan demikian kita dapat disebut sebagai orang-orang percaya. Aku berpikir tentang para pelanggan yang datang ke toko hari ini untuk membeli jasa dan tentang bagaimana aku dan Xiao Jie ingin melayaninya untuk mendapatkan sedikit uang tambahan. Namun, tidak ada aturan tentang siapa yang harus menghasilkan uang ini— siapa cepat dia dapat. Jika aku membenci Xiao Jie karena dia lebih dahulu mendapatkannya dan merampas uangku, bukankah itu berarti aku masih hidup dengan sifat iblis dalam diriku yang egois dan tercela dan hanya memikirkan keuntunganku sendiri? Aku telah berdebat dengan Xiao Jie karena hal-hal yang tidak penting, dan bahkan menyesal telah repot-repot menyapanya. Bukankah ini menunjukkan bahwa aku tidak memiliki akal atau integritas sedikit pun? Memikirkan hal ini, aku merasa sedikit malu.
Aku kemudian merenungkan firman Tuhan yang menyatakan: “Pekerjaan apa pun yang dicari seseorang, apa yang dilakukannya untuk mencari nafkah, berapa banyak kekayaan yang dikumpulkan dalam hidup ini tidak ditentukan oleh orang tua, talenta, daya, maupun ambisi seseorang, melainkan telah ditentukan terlebih dahulu oleh Sang Pencipta“. Firman Tuhan membuka hatiku pada terang itu, dan semuanya tiba-tiba selaras. “Ya,” pikirku, “seberapa banyak uang yang aku hasilkan dalam sehari dan apakah aku miskin atau kaya dalam hidup ini, semuanya tergantung pada kedaulatan dan ketetapan Tuhan sejak semula. Uang ini tidak dapat diperoleh melalui usahaku sendiri atau dengan bersaing dengan orang lain. Aku harus memercayakan pekerjaanku setiap hari ke tangan Tuhan, membiarkan alam berjalan dengan sendirinya dalam hal berapa banyak yang aku hasilkan, dan belajar bagaimana tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan.” Setelah sampai pada pemahaman ini, aku merasa sangat terbebaskan. Aku tidak akan lagi memikirkan Xiao Jie yang mencuri para pelangganku dan akan melanjutkan pekerjaanku seperti biasa.
Tidak lama setelah itu, pelanggan lain masuk dan mereka secara khusus meminta jasaku untuk menata rambut mereka. Aku tahu bahwa ini adalah pengaturan dan berkat Tuhan, dan aku merasa sangat bersyukur kepada-Nya. Tepat sebelum tengah hari, pelanggan lain masuk dan Xiao Jie serta rekan yang lain, Xiao Gao, beranjak untuk menyambut mereka, tetapi Xiao Jie sekali lagi sampai terlebih dahulu dan menerima pelanggan tersebut. Tanpa diduga, ketika pelanggan itu pergi, Xiao Gao mengangkat tangannya dan menampar Xiao Jie. Xiao Jie sangat ketakutan saat ditampar dan, melihat berkembangnya situasi ini, aku segera menarik Xiao Gao ke pinggir dan berusaha menenangkannya, dan badai pun mereda. Melihat Xiao Gao dan Xiao Jie bertengkar memperebutkan keuntungan, aku memiliki perasaan yang mendalam bahwa, dengan hidup berdasarkan watak iblis dalam diri kita, manusia hanya akan menjadi semakin kejam dan jahat, dan pada akhirnya akan memperebutkan segalanya. Saat itu, firman Tuhan muncul di benakku: “Manusia selalu egois, sementara Tuhan selamanya penuh pengorbanan. Tuhan adalah sumber segala sesuatu yang adil, baik, dan indah, sedangkan manusia adalah pihak yang berhasil melakukan dan memanifestasikan segala keburukan dan kejahatan“. Firman Tuhan ini sangat benar! Setelah dirusak oleh Iblis, kita menjadi sangat egois dan tercela, kita memperebutkan segalanya demi kepentingan kita sendiri, tidak ada yang memikirkan orang lain atau menunjukkan perhatian ataupun kepedulian terhadap orang lain, dan kita mulai hidup seperti binatang. Dalam dunia binatang, yang kuat memangsa yang lemah, dan binatang sering kali menyerang, bertarung, dan membunuh satu sama lain demi wilayah dan makanan, dan bukankah dunia manusia persis sama? Dari individu sampai negara, kita semua bersaing dan bertarung satu sama lain demi kepentingan kita sendiri, tanpa sedikit pun kemanusiaan atau akal. Contohnya aku dan Xiao Jie: Jika bukan karena bimbingan dan pimpinan firman Tuhan, aku akan terus bersaing dengan Xiao Jie demi mendapatkan keuntungan, sampai akhirnya segalanya akan berkembang ke tahap di mana kami akan terlibat perkelahian fisik. Namun, esensi Tuhan adalah tanpa pamrih selamanya. Tuhan menciptakan langit, bumi, dan segalanya, Dia menciptakan manusia, dan terlebih lagi, Dia terus menyediakan segala yang kita butuhkan untuk bertahan hidup, serta memberikan kepada kita semua kebenaran yang kita butuhkan untuk mencapai keselamatan sejati. Tuhan melakukan banyak hal untuk kita, tetapi Dia tidak pernah meminta apa pun sebagai balasannya. Dia hanya berharap agar kita akan kembali ke hadapan-Nya dan menerima keselamatan-Nya, menghidupi kemanusiaan yang biasa, dan hidup dalam terang dan kebahagiaan. Tidak ada kata-kata yang sepenuhnya bisa menggambarkan sifat tanpa pamrih dan kebaikan Tuhan. Memikirkan hal ini, aku memiliki perasaan yang semakin kuat bahwa, dengan datang di hadapan Tuhan, aku benar-benar menerima kasih dan keselamatan-Nya yang besar.

Jumat, 7 Desember 2018, Langit cerah

Akhir-akhir ini, sikap Xiao Jie terhadapku telah mengalami perubahan besar. Mungkin dia tidak pernah menyadari bahwa dia selalu mencuri para pelangganku tetapi, jika itu benar-benar penting, aku tetap bisa mengulurkan tangan dan membantunya, dan sekarang hubungan kami berangsur-angsur membaik. Sekarang ketika para pelanggan datang ke toko, kadang-kadang dia akan membiarkan aku menerima mereka dan memintaku melayani mereka, dan dia sering memperkenalkan para pelanggan kepadaku. Rekan-rekan kerja kami yang lain telah melihat bagaimana hubunganku dengan Xiao Jie dan mereka sedikit mengagumiku, dan kadang-kadang mereka juga akan merekomendasikan aku kepada para pelanggan mereka. Setelah menyaksikan kesudahan ini, aku merasa sangat jelas dalam hatiku bahwa semua ini terjadi karena aku melakukan sesuai dengan firman Tuhan.
Merenungkan masa empat bulanku di salon kecantikan, pengalamanku selama kurun waktu ini telah membuatku memahami bahwa, hanya dengan berdoa kepada Tuhan dalam segala hal di kehidupan nyata dan dengan mencari kebenaran dan memahami kebenaran dari firman Tuhan, kita dapat memahami segala sesuatu dengan seutuhnya dan mendapatkan jalan ke depan; hanya dengan melakukan kebenaran, kita dapat hidup dalam manusia yang normal, merasa tenang dan nyaman di hati kita, dan hidup dengan bersikap terbuka dan jujur dalam tindakan kita. Orang-orang sering berkata, “Sebaik apa pun dua orang berteman, mereka akan menjadi musuh bila menyangkut keuntungan .” Namun, ketika kita melakukan kebenaran, ketika kita tidak hidup dengan sifat iblis dalam diri kita yang egois dan tercela, dan kita hidup dalam keserupaan seorang Kristen, maka kita bisa bergaul secara damai dengan orang lain. Aku tahu bahwa di kehidupan mendatang, aku akan menemukan segala macam situasi, orang, peristiwa, dan hal-hal, dan bahwa aku tetap akan mengungkapkan beberapa kerusakan saat berada di bawah kendali watak iblis dalam diriku. Namun, aku percaya bahwa, selama aku berdoa dan bersandar pada Tuhan, selama aku mendapatkan pencerahan serta bimbingan firman Tuhan dan melakukan sesuai dengan persyaratan Tuhan dalam segala hal, aku pasti secara berangsur-angsur akan dapat membuang kerusakanku dan hidup dalam kemanusiaan yang biasa. Puji syukur kepada Tuhan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akhirnya saya menemukan jalan keluar dari kekeringan rohani(I)

Oleh Endai, Korea Selatan Aku Bertemu dengan Tuhan untuk Pertama Kalinya dan Aku Mengalami Kedamaian dan Sukacita Pada tahun 2010, ak...