10 Des 2019

Siapa yang bisa menyelamatkan pernikahan yang rusak

Kehidupan Kristen, Kesaksian, Kisah Nyata Kristen, Pernikahan Kristen,

Kesaksian KristenSiapa yang bisa menyelamatkan pernikahan yang rusak


Ketika Jingyu berusia dua bulan, dia diserahkan kepada keluarga lain untuk dibesarkan. Orang tua angkatnya memperlakukannya seperti putri mereka sendiri dan dua saudara lelaki angkatnya juga sangat menyayanginya.  Setelah dia mengetahui tentang dunia, ibu angkatnya memberitahunya anak siapa dia sebenarnya. Meskipun tahu bahwa dia bukan anak kandung dari orang tua angkatnya, Jingyu merasa beruntung karena ibu dan keluarga angkatnya baik kepadanya. Jadi, dia bertekad akan memperlakukan orang tua angkatnya dengan hormat saat dia tumbuh dewasa. Orang tua angkatnya sangat menyukai Jingyu. Dan mereka sering berkata kepada Jingyu: “Aku akan menjadikanmu menantu perempuanku saat kamu sudah cukup dewasa.” Namun, Jingyu tidak memperhatikan kata-kata ini karena dia masih terlalu muda pada waktu itu.
Ketika Jingyu berusia 16 tahun, ibu angkatnya ingin agar dia bertunangan dengan adik lelaki angkatnya, Junjie. Padahal Jingyu telah memperlakukan Junjie sebagai adiknya sendiri. Bagaimana mungkin seorang kakak perempuan menikahi adik lelakinya? Jingyu tidak setuju, tetapi ibu angkatnya menangis dan mengatakan bahwa dia tidak menyangka Jingyu akan membantah setelah membesarkannya begitu lama. Jingyu kebingungan. Jadi, dia memberi tahu Junjie tentang kondisi tersebut. Junjie berkata: “Kamu bisa berpura-pura mematuhi permintaan ibu kita, dan kemudian aku akan membawamu ke tempat lain untuk bekerja. Kemudian, kamu bisa mencari pria yang kamu sukai dan aku juga bisa mencari gadis yang aku sukai. Jika aku menikah, ibu kita tidak punya alasan untuk memintamu menikah denganku. Kita akan menjadi saudara dan saudari selamanya dan ibu kita tidak akan bersedih. Tidakkah itu memuaskan kita masing-masing?” Mendapati apa yang dikatakan adik lelakinya masuk akal, Jingyu menuruti permintaan ibunya.
Setelah itu, Junjie benar-benar bekerja di tempat lain bersama Jingyu. Setahun kemudian, Junjie pulang ke rumah karena ada beberapa urusan. Jingyu tetap tinggal di tempat lain untuk bekerja. Tepat pada saat itu, Jingyu bertemu dengan seorang pria di perusahaannya bernama Tao. Setiap hari, Tao akan mengantarnya pulang. Lama kemudian, mereka berdua saling menyukai. Dan Jingyu bahkan setuju untuk menikah dengan Tao. Dengan semakin dekatnya Festival Musim Semi, Jingyu pulang ke rumah dan memberi tahu ibu angkatnya semua hal tentang Tao. Namun, ibu angkatnya menentang keras hubungannya dengan Tao. Selain itu, dia memohon agar Jingyu menikah dengan Junjie. Jingyu tidak punya pilihan selain meminta pertolongan Junjie. Namun, Junjie juga tidak bisa menerima kenyataan itu. Dia mengurung diri di kamarnya dan tidak mau minum atau makan. Dia bahkan mencoba bunuh diri. Jingyu memergokinya tepat waktu dan mencegahnya. Junjie menangis dan berkata: “Aku sudah lama memperlakukanmu sebagai pacarku. Cinta itu egois. Aku tahu bahwa aku tidak dapat mencegahmu menikahi Tao. Selain itu, aku tidak ingin memaksamu menikah denganku. Tetapi aku juga tidak ingin hidup sengsara. Jadi, aku tidak bisa selain mengakhiri hidupku. Lalu kamu bisa hidup dengan Tao.” Setelah mendengar kata-kata Junjie, Jingyu tercengang. Meskipun dia tidak mencintai Junjie, dia tidak ingin melihatnya hidup sengsara. Dia tidak bisa berdiam diri dan menyaksikan kakaknya melakukan hal-hal konyol! Ketika nenek angkatnya mengetahui kabar itu, dia berlutut di depan Jingyu dan memintanya untuk menikahi Junjie. Pada saat itu, Jingyu benar-benar putus asa. Dia tahu bahwa dia tidak akan bahagia meskipun menikah dengan pria yang dicintainya jika sesuatu yang buruk terjadi pada ibu dan adik lelakinya karena kepergiannya. Dalam hal ini, dia akan menyalahkan hati nuraninya sendiri selamanya. Jingyu tidak punya pilihan selain memilih kasih sayang keluarga dan mengorbankan cinta. Pada akhirnya, dia menikah dengan Junjie. Dia memutuskan hubungan dengan Tao untuk membuat Junjie lega.
Setelah menikah, Jingyu melahirkan bayi, dan seluruh keluarga pun bahagia. Namun, Jingyu sama sekali tidak bahagia. Dia masih tidak bisa melupakan Tao. Jingyu sering berpikir: “Katanya, ‘Semua akan baik-baik saja, dan Jack akan mendapatkan Jill.’ Mengapa aku tidak bisa hidup bersama dengan Tao?” Dia berpikir Junjie-lah yang menghancurkan kebahagiaannya. Jadi, dia tidak bisa menerima Junjie sebaik apa pun dia memperlakukannya. Dia berpikir, kesengsaraan terbesar jika dia tidak bisa hidup dengan pria yang dicintainya. Terkadang dia merasa sangat terluka sampai ingin bunuh diri. Dia bepikir hanya kematian yang bisa membebaskannya sepenuhnya. Namun, saat dia memikirkan betapa anaknya masih sangat kecil, mau tidak mau dia menghentikan gagasan itu. Dia sering menangis ke langit: “Tuhan! Aku mohon selamatkan aku! Mengapa aku hidup dalam kesakitan seperti ini?” Untuk menghilangkan rasa sakitnya, Jingyu sering melampiaskannya pada minum-minuman di beberapa tempat hiburan. Dan dia bahkan sengaja membawa teman-teman dekat wanitanya ke rumah untuk menciptakan perang dingin dengan suaminya. Mereka saling menganggap yang lain sekadar melintas begitu saja. Dan pernikahan mereka di ujung tanduk.
Tepat ketika Jingyu merasa terluka dan tidak berdaya, temannya memberitakan Injil Tuhan kepadanya dan membacakan firman Tuhan kepadanya: “Tanpa sepengetahuan manusia, Iblis menyampaikan banyak pesan seperti ini, menyebabkan manusia secara tidak sadar merasa bahwa hal-hal ini benar, atau bermanfaat. Tanpa disadari, manusia menempuh jalan semacam ini, tanpa sadar digiring maju oleh cita-cita dan ambisi mereka sendiri. … Tergoda oleh bujuk rayu Iblis, mereka tanpa sadar berjalan di jalan yang telah dipersiapkan Iblis bagi mereka. Sementara mereka berjalan di jalan ini, mereka dipaksa untuk menerima aturan hidup Iblis. Tanpa diketahui dan sama sekali tanpa mereka sadari, mereka mengembangkan aturan hidup mereka sendiri, padahal ini sebetulnya hanyalah aturan Iblis yang dengan sangat kuat ditanamkan dalam diri mereka.” “Orang pada umumnya punya banyak bayangan tentang pernikahan sebelum mereka mengalaminya sendiri, dan semua bayangan ini nampak indah. Wanita biasanya membayangkan pasangan mereka kelak adalah Pangeran Tampan, dan para pria membayangkan akan menikahi Putri Salju. Fantasi-fantasi seperti ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki persyaratan yang berbeda akan pernikahan, sejumlah tuntutan dan standar mereka sendiri. Walaupun di zaman kejahatan ini orang-orang makin sering dibombardir dengan ide-ide yang keliru tentang pernikahan, yang menciptakan lebih banyak persyaratan tambahan, dan menimbulkan beban, serta perilaku ganjil, siapa pun yang sudah mengalami pernikahan tahu sehingga tidak peduli bagaimana seseorang memandang pernikahan dan bagaimana sikapnya terhadap pernikahan, pernikahan tidak bergantung pada pilihan pribadi.
Melalui firman Tuhan dan persekutuan temannya, Jingyu mengerti bahwa alasan mengapa kehidupannya begitu menyakitkan adalah karena dia terpengaruh oleh teori “Cinta di atas segalanya,” “Semua akan baik-baik saja, dan Jack akan mendapatkan Jill,” dan oleh kisah cinta sempurna dalam drama TV, yang membuatnya memendam ilusi tentang cinta. Dia menganggap Tao sebagai Pangeran Idaman yang sempurna dan berpikir bahwa dia akan bahagia jika dia bisa menikah dengan Tao; itulah yang selalu membuatnya tidak puas dengan kehidupannya saat ini. Dia ingin melepaskan diri dari Junjie dan tinggal bersama Tao. Dia bahkan melampiaskan diri pada minum-minuman dan bersikap dingin terhadap suaminya untuk melarikan diri dari kenyataan, yang membuat mereka berdua hidup dalam kesengsaraan. Kemudian, Jingyu merasa lega. Kenyataannya, alasan mengapa dia begitu terluka bukanlah karena Junjie menghancurkan kebahagiaannya, tetapi karena dia terpengaruh oleh kecenderungan jahat dan dengan demikian menyembunyikan ilusi. Itulah sumber rasa sakitnya. Jingyu tenggelam dalam pemikirannya: “Saat ini, begitu banyak orang, yang terpengaruh oleh kecenderungan Iblis, secara buta percaya bahwa ‘Cinta di atas segalanya.’ Untuk ini, mereka akan mengabdikan semuanya dan bahkan melakukan bunuh diri, yang membuat diri dan keluarga mereka merasakan penderitaan dan rasa sakit yang tidak dapat diperbaiki. Semua tragedi ini disebabkan oleh kecenderungan jahat Iblis. Tanpa kepemimpinan firman Tuhan, aku tidak akan melihat hal-hal ini dengan jelas sama sekali dan tidak akan terbebas dari rasa sakit.” Memikirkan hal ini, dalam hati Jingyu bersyukur kepada Tuhan.
Kemudian, Jingyu membaca firman Tuhan: “Di bawah kedaulatan Sang Pencipta, dua orang tanpa hubungan yang nasibnya saling berkaitan secara bertahap memasuki pernikahan dan secara ajaib menjadi sebuah keluarga, bagaikan ‘dua belalang yang berpegang erat pada tali yang sama’. Jadi, ketika seseorang memasuki pernikahan, perjalanan hidupnya akan memengaruhi dan bersentuhan dengan perjalanan hidup belahan jiwanya. Begitu juga sebaliknya, perjalanan hidup pasangannya akan memengaruhi dan bersentuhan dengan perjalanan hidupnya. … Sebuah pernikahan bukanlah produk dari keluarga kedua pihak, ataupun keadaan tempat mereka bertumbuh, penampilan mereka, usia, sifat, bakat mereka, atau faktor-faktor lain; pernikahan lahir dari misi bersama dan nasib yang saling berkaitan. Inilah asal-usul pernikahan, sebuah produk dari nasib manusia yang diatur dan ditata oleh Sang Pencipta.” Dari firman Tuhan ini, Jingyu benar-benar memahami bahwa pernikahannya dan keluarganya sudah diatur dengan saksama oleh Tuhan, dan ditakdirkan oleh Tuhan. Jingyu awalnya berpikir bahwa karena anggota keluarganyalah dia terpaksa menikahi Junjie. Namun sekarang, dia mengerti bahwa karena ada misi bersama dan keterkaitan nasib itulah mereka menikah. Pada saat yang sama, dia juga merasa ada kehendak baik Tuhan dalam pengaturan semacam ini. Meskipun dia tidak mencintai Junjie, Junjie merawatnya dengan sepenuh hati dan jiwa. Pada zaman yang jahat dan tidak bermoral seperti ini, dia memperlakukan suaminya dengan sangat buruk, sementara suaminya tidak mengkhianatinya tetapi sebaliknya merawatnya dengan sangat hati-hati dan bahkan tidak menuntutnya untuk melakukan pekerjaan rumah. Jingyu menyadari bahwa dia tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Dia selalu berusaha menolak pengelolaan dan pengaturan Tuhan, yang tidak hanya membuatnya sangat menderita, tetapi juga melukai Junjie dan keluarga mereka. Dan dia tidak pernah memikirkan rasa sakit dan perasaan Junjie. Jingyu merasa malu dan gelisah karena dia menyakiti pria yang sangat mencintainya.
Kemudian, Jingyu tidak lagi tenggelam dalam minum-minuman. Dia berhenti membawa teman-teman wanitanya ke rumah untuk menghina Junjie. Sebagai gantinya, dia berusaha menerima Junjie. Dalam kehidupan sehari-hari, ketika dia berbicara dengan Junjie, dia tidak bertindak seolah-olah telah menelan bubuk mesiu seperti sebelumnya, tetapi dia dapat berbicara dengan tenang dengannya, memberikan kelonggaran untuknya dan menunjukkan perhatian kepadanya. Ketika Junjie mendapati bahwa dia berubah, sejenak dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan perubahannya. Dia tidak berharap istrinya akan banyak berubah. Dia sangat bahagia. Sedikit demi sedikit, rumah mereka tidak lagi dalam kondisi “perang dingin”, dan ada kehangatan dan keharmonisan di rumah mereka. Meski begitu, terkadang Jingyu masih merasa malu ketika dia memikirkan Tao. Kemudian, Jingyu menghubungi Tao secara kebetulan dan mengetahui bahwa dia telah menikah dan sekarang memiliki seorang anak perempuan. Jingyu merasa lega ketika dia tahu bahwa Tao sudah hidup sejahtera.
Kemudian, Jingyu memberitakan Injil Tuhan kepada Junjie dan Tao, berharap agar keduanya bisa menerima keselamatan Tuhan. Namun, Tao selalu mengatakan bahwa dia terlalu sibuk untuk menghadiri kebaktian, artinya dia tidak ingin percaya kepada Tuhan dengan tulus. Suatu kali, Tao berkata bahwa dia akan datang untuk bekerja di kota Jingyu dan ingin melakukan hubungan yang tidak senonoh dengan Jingyu. Ketika Jingyu berpikir bahwa dia seorang yang percaya kepada Tuhan, dan bahwa Tuhan paling membenci dan jijik pada pergaulan bebas, Jingyu dengan tegas menolaknya, dengan mengatakan: “Sama sekali tidak. Kita berdua sudah memiliki keluarga sendiri. Kita tidak boleh melakukan itu!” Namun, Tao berkata: “Sekarang siapa yang keberatan dengan itu? Bukankah semua orang melakukannya pada zaman ini? Kamu konyol sekali. Mengapa tidak memanfaatkan hari ini untuk kesenangan, karena hidup ini singkat?” Kata-kata Tao sangat mengecewakan Jingyu. Dia tidak mengira bahwa Tao sama sekali tidak menghormati pernikahan. Dia berpikir bahwa jika dia menikah dengan Tao, bagaimana pria itu bisa merawatnya dengan sepenuh hati dan jiwanya karena dia menjalani hidup sudut pandang “Mengapa tidak memanfaatkan hari ini untuk kesenangan, karena hidup ini singkat?” Jingyu merasa beruntung dulu dia tidak menikah dengan Tao. Sejak itu, Jingyu tidak lagi berhubungan dengan Tao. Setelah Junjie menerima pekerjaan Tuhan, dia bekerja keras mencari kebenaran. Dia sering melakukan pengabdian spiritual dan membaca firman Tuhan bersama dengan Jingyu. Keduanya saling mendukung. Ketika mereka menemukan sesuatu, mereka bisa membuka persekutuan, dan kemudian menjalankan sesuai dengan firman Tuhan. Setelah itu, Jingyu mengabdi sebagai pemimpin di gereja; Junjie sangat mendukungnya. Mereka berbagi bahasa yang sama dan kesalahpahaman mereka pun hilang.
Suatu malam, Jingyu dan Junjie membaca bersama satu bagian dari firman Tuhan: “Ketika seseorang tidak punya Tuhan, saat seseorang tidak bisa melihat-Nya, saat mereka tidak mengakui kedaulatan Tuhan, setiap harinya menjadi tidak berarti, tidak bernilai, penuh kesusahan. Di mana pun seseorang, apa pun pekerjaannya, cara hidupnya dan pengejaran tujuan hidupnya tidak akan menghasilkan apa pun selain sakit hati dan penderitaan tanpa ujung, sehingga ia tidak mampu melihat ke belakang. Hanya ketika seseorang menerima kedaulatan Sang Pencipta, tunduk kepada pengaturan dan penataan-Nya, dan mencari kehidupan manusia yang sejati, barulah ia akan berangsur-angsur terbebas dari segala sakit hati dan penderitaan, menyingkirkan segala kekosongan dalam hidup.” “Sebagian orang mungkin tidak menyadari hal-hal tersebut. Namun, ketika engkau sungguh-sungguh mengenal, mengakui bahwa Tuhan berdaulat atas nasib manusia, apabila engkau sungguh-sungguh mengerti bahwa semua yang telah direncanakan dan diputuskan Tuhan terhadapmu itu memberikan manfaat yang besar, memberikan perlindungan yang besar, kemudian engkau merasakan kepedihanmu secara perlahan reda, dan seluruh dirimu menjadi kendur, bebas, merdeka.” Setelah membaca firman Tuhan ini, Jingyu berkata kepada Junjie: “Pernikahan kita sudah diatur dengan saksama oleh Tuhan. Tetapi aku tidak tahu kedaulatan Tuhan, dan pada masa lalu aku tidak pernah tahu niat baik Tuhan, yang tidak hanya memberiku rasa sakit, tetapi juga
menyakitimu. Terima kasih Tuhan telah membebaskan kita dari rasa sakit itu. Kita mungkin sudah bercerai jika kita tidak percaya pada Tuhan.” Junjie berkata: “Ya! Terima kasih Tuhan telah menyelamatkan kita. Semua berada di bawah kedaulatan-Nya. Jika Tuhan tidak mengatur hidup kita seperti ini, kita tidak akan datang ke hadapan-Nya. Apa yang Tuhan aturkan untuk kita adalah yang terbaik. Mulai sekarang, kita harus mencari kebenaran dan menyembah Tuhan dengan benar!” Sebelum Jingyu menjawab kata-katanya, putra mereka datang, berkata: “Ibu, Ayah, akhirnya kalian rukun.” Kemudian Jingyu dan Junjie saling pandang dan tidak bisa menahan tawa …
Oleh Aixin, Jerman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akhirnya saya menemukan jalan keluar dari kekeringan rohani(I)

Oleh Endai, Korea Selatan Aku Bertemu dengan Tuhan untuk Pertama Kalinya dan Aku Mengalami Kedamaian dan Sukacita Pada tahun 2010, ak...