17 Sep 2019

Memahami misteri menyambut kedatangan Tuhan "Diatas Awan" (I)

kedatangan Tuhan, Yesus sudah datang, studi alkitab,
Oleh Li Xun
Desakan menyatakan kegigihan, yang berarti penantian, dan bahkan lebih merupakan kerinduan rohani …. Tetapi jika arah desakan kita salah, tidakkah kita akan tersesat?
—Catatan
Suatu sore di bulan Juni, rasanya gerah, tanpa embusan angin. Saat itu, aku sedang beristirahat di kursi bambu di rumah.
Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil “Bibi.” Aku melihat keponakan laki-lakiku Xiaofang, yang ditemani oleh salah seorang temannya yang berpakaian rapi dan terlihat ramah. Lalu aku menerima mereka ke dalam ruangan. Ketika menuangkan air, aku berkata: “Apakah kamu punya alasan datang ke sini di hari yang begitu panas?” Xiaofang dengan gembira berkata, “Aku punya berita baik untuk Bibi. Tuhan Yesus yang telah lama kita dambakan telah datang kembali.” Setelah mendengar ini, aku tercengang dan berpikir: “Hanya Kilat dair Timur yang bersaksi bahwa Tuhan telah datang kembali. Mungkinkah mereka memercayainya? Aku sering mendengar pendetaku mengatakan bahwa saat ini, ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali dan melakukan pekerjaan penghakiman dan hajaran. Pendeta meminta kami agar tidak mengindahkan mereka dan memberi tahu kami agar sudah cukup hanya dengan percaya bahwa Tuhan akan datang dengan awan.” Jadi aku berkata padanya dengan hati-hati, “Kamu mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali. Di mana dia? Bagaimana mungkin aku belum pernah melihatnya? Alkitab berkata: ‘Lihatlah, Dia datang dengan awan-awan; dan setiap mata akan melihat-Nya, juga mereka yang menikam Dia: dan semua orang di bumi akan meratap karena Dia‘ (Wahyu 1:7). ‘Mengapa engkau sekalian berdiri memandang ke langit? Yesus yang sama ini, yang terangkat dari antara kalian ke surga, juga akan datang kembali dengan cara yang sama seperti engkau melihat Dia naik ke surga’ (Kisah Para Rasul 1:11). Karena itu, aku berpikir Tuhan akan datang kembali di atas awan dan akan terlihat oleh kita.” Kemudian Xiaofang berkata: “Bibi, kita tidak seharusnya hanya mengandalkan ayat-ayat ini untuk percaya bahwa Tuhan pasti akan datang dengan cara ini. Sebenarnya, banyak bagian Alkitab berisi nubuat-nubuat tentang kedatangan Tuhan ….” Tetapi sebelum Xiaofang selesai bicara, aku langsung menyela: “Xiaofang, aku sudah percaya kepada Tuhan lebih lama dari kamu, dan aku tahu lebih banyak dari yang kamu tahu. Jadi bagaimana mungkin aku tidak tahu metode kedatangan Tuhan? Baiklah, kamu bisa datang menemuiku, tetapi jika kamu mencoba membuatku percaya pada Kilat dari Timur, kamu harus pulang. Jika yang mereka saksikan bukanlah Tuhan Yesus yang akan turun dengan awan, aku tidak akan menerima Dia.” Setelah itu, temannya juga mengajak aku bersekutu, tetapi aku tetap tidak mengindahkan, memilih untuk sengaja mengabaikannya dan mulai melakukan pekerjaan rumah. Melihat itu, mereka harus pergi.
Beberapa bulan kemudian, Saudari Liu dan Saudari Wang dari gerejaku juga mulai percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, dan mereka juga datang ke rumahku untuk memberitakan Injil kedatangan Tuhan kembali. Tetapi tidak peduli apa yang mereka katakan padaku, aku tetap bersikeras bahwa Tuhan akan turun ke awan untuk membawa kita ke kerajaan surga, dan setelah itu mengirim bencana besar untuk menghancurkan dunia yang tua ini. Dengan keras kepala berpegang teguh pada gagasanku, ketika keponakan dan kedua saudari dari gerejaku memberitakan Injil kerajaan itu padaku, aku menolak mereka semua.
Dalam sekejap mata, sembilan tahun berlalu, tetapi aku tidak melihat tanda-tanda kedatangan Tuhan kembali. Perlahan-lahan, rohku menjadi sangat lemah dan aku merasa bingung: “Sekarang adalah akhir zaman, dan nubuat-nubuat tentang kedatangan Tuhan kembali pada dasarnya telah digenapi, tetapi mengapa Tuhan yang telah kita nantikan tetap belum kembali dengan awan untuk menyambut kita?” Setelah itu, aku melihat saudara-saudari di gerejaku juga kehilangan iman mereka. Para pengkhotbah selalu menyampaikan khotbah-khotbah lama yang sama, dan tidak ada kesenangan yang bisa didapat dalam pertemuan ibadah. Jadi perlahan-lahan aku tidak menghadiri pertemuan ibadah, tetapi hanya membaca Alkitab dan berdoa di rumah, dengan waspada menantikan kedatangan Tuhan.


Suatu hari di bulan Agustus 2012, Saudari Huang, yang sudah lama tidak pernah bicara denganku dan sesama penduduk desa, tiba-tiba datang ke rumahku. Aku sangat senang melihatnya dan segera mengajaknya masuk. Aku juga menyajikan beberapa buah dan air untuknya. Setelah kami berbincang-bincang sebentar, ia bertanya padaku dengan khawatir: “Saudari, bagaimana kondisimu saat ini? Apakah kamu masih menghadiri pertemuan ibadah?” Aku menjawab: “Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang. Tidak ada kenikmatan yang bisa didapat dalam pertemuan ibadah. Iman saudara-saudari semakin dingin. Aku belum menghadiri pertemuan ibadah selama beberapa bulan, tetapi terus berdoa dan membaca Alkitab di rumah, menantikan kedatangan Tuhan.” Mendengar ini, dia berkata dengan sungguh-sungguh: “Ya! Sekarang, iman kebanyakan saudara-saudari pada umumnya menjadi lemah dan hambar, dan para pengkhotbah tidak memiliki apa-apa yang bisa dikhotbahkan, atau bicara tentang kata-kata hampa yang sama. Tetapi tahukah kamu alasannya? Sebenarnya, itu terutama karena pekerjaan Roh Kudus telah bergerak, dan Tuhan telah datang kembali dan melakukan pekerjaan baru untuk menghakimi, menghajar, dan mentahirkan umat manusia. Ini persis memenuhi firman Alkitab: “Karena waktunya akan datang penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan” (1 Petrus 4:17). Jadi gereja-gereja tidak lagi memiliki pekerjaan Roh Kudus. Sama seperti ketika Tuhan Yesus datang untuk melakukan pekerjaan baru-Nya di Zaman Kasih Karunia, Tuhan tidak melakukan pekerjaan di bait suci.” Ketika mendengar dia berkata: “Tuhan telah datang kembali,” Aku merasa sangat terkejut dan berpikir: “Mungkinkah Saudari Huang juga telah beralih ke Kilat dari Timur?” Jadi aku bertanya dengan sedih: “Saudari, apakah kamu percaya pada Kilat dari Timur?” “Ya, aku percaya,” jawabnya. Mendengar ini, aku memperlihatkan wajah murung dan tidak ingin bicara dengannya lagi. Melihatku seperti ini, dia dengan sabar bertanya: “Saudari Li, kamu dapat mengajukan pertanyaan apa pun yang kamu miliki, dan kemudian kita dapat memecahkannya bersama dengan mencari kebenarannya.” Kemudian aku berkata: “Aku mengakui apa yang kamu jelaskan dalam persekutuan cukup masuk akal. Sebenarnya, sembilan tahun yang lalu beberapa orang mengatakan padaku bahwa Tuhan telah kembali, tetapi aku tidak menerimanya karena hal itu dinyatakan dengan jelas dalam Alkitab: ‘Lihatlah, Dia datang dengan awan-awan; dan setiap mata akan melihat-Nya, juga mereka yang menikam Dia: dan semua orang di bumi akan meratap karena Dia‘ (Wahyu 1:7). ‘Yesus yang sama ini, yang terangkat dari antara kalian ke surga, juga akan datang kembali dengan cara yang sama seperti engkau melihat Dia naik ke surga’ (Kisah Para Rasul 1:11). Ayat-ayat ini menubuatkan bahwa Tuhan akan tiba di atas awan putih. Tetapi kamu mengatakan bahwa Tuhan telah datang kembali, mengapa aku tidak melihat Tuhan datang kembali?”

Setelah mendengar ucapanku ini, dia berkata dengan sungguh-sungguh dan serius, “Itu karena kita tidak mau belajar dan menyelidiki ketika kita mendengar seseorang menyebarkan berita tentang kedatangan Tuhan, dan dengan demikian kita tidak dapat menerima pencerahan dan tuntunan Roh Kudus. Dalam kasus seperti itu, bagaimana kita dapat melihat kenyataan bahwa Tuhan telah datang kembali? Saudari, hendaknya kita mempunyai niat untuk mencari dan menyelidiki dan seharusnya tidak berpegang pada gagasan kita sendiri. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus: ‘Diberkatilah orang yang miskin dalam roh: karena kerajaan surga adalah milik mereka‘ (Matius 5:3). Tetapi jika kita masih berpegang pada gagasan kita sendiri, kita akan kehilangan kesempatan untuk menyambut kedatangan Tuhan. Saudari Li, apakah kamu setuju denganku?” Mendengar apa yang dikatakannya, aku merenung beberapa saat dan berpikir itu masuk akal. Kemudian, dia mengambil sebuah buku dari tasnya, Gulungan Kitab Dibuka oleh Anak Domba, dan berkata padaku: “Saudari Li, dalam Kitab Wahyu, ada banyak bagian dengan nubuat yang mengatakan, ‘Barang siapa memiliki telinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang diucapkan Roh kepada gereja-gereja‘ (Lihat Wahyu 2-3). Kata-kata dalam buku ini adalah apa yang Tuhan firmankan kepada gereja-gereja, dan diucapkan pada kedatangan-Nya kembali. Aku akan meninggalkan bukuku di sini dan berharap kamu dapat membaca dan menyelidikinya saat kamu punya waktu.” Melihat dia bicara dengan tulus, aku tidak menolak. Setelah dia pergi, aku ragu apakah akan membacanya atau tidak. Saat itu, aku mulai bertanya-tanya: Mengapa banyak saudara-saudari yang memiliki iman sejati kepada Tuhan semuanya mulai percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa? Apa yang dikatakan Tuhan Yang Mahakuasa sehingga mereka mau mengikuti-Nya? Karena penasaran, aku meraih buku itu untuk kubaca. Memperhatikan judulnya, Gulungan Kitab Dibuka oleh Anak Domba, aku berpikir, “Kitab Wahyu dalam Alkitab menyatakan bahwa Anak Domba merujuk kepada Tuhan Yesus, dan bahwa hanya Anak Domba yang layak membuka gulungan kitab dan melepaskan tujuh meterai. Mungkinkah kata-kata dalam buku ini benar-benar diucapkan oleh Tuhan Yesus pada kedatangan-Nya kembali?”
Bersambung …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Akhirnya saya menemukan jalan keluar dari kekeringan rohani(I)

Oleh Endai, Korea Selatan Aku Bertemu dengan Tuhan untuk Pertama Kalinya dan Aku Mengalami Kedamaian dan Sukacita Pada tahun 2010, ak...